Latest News
Paket Program Hamil

MENJAGA SEMANGAT RAMADHAN

Tak terasa Ramadhan telah berlalu . Alhamdulillah kita diberi nikmat dapat berjumpa dengan bulan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah tersebut, Allah melipatkan pahala dibanding dengan pahala ibadah yang sama diluar bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang selalu disambut dengan berbagai ekspresi cinta di seluruh pelosok negeri muslim. Namun sayang, kebanyakan kita hanya mampu mencintainya sesaat saja.

Ketika ia menjelma, cinta kita begitu menggebu, namun kerap kali cinta itu berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu. Banyak fenomena yang terjadi di bulan Ramadhan kita amat sangat giat beribadah, namun setelah Ramadhan berlalu semangat kita luntur dan ibadah pun berkurang dibanding pada saat Ramadhan. Tidak hanya itu setelah Ramadhan berakhir kita
kembali ke kebiasaan kita sebelum Ramadhan tanpa ada peningkatan ibadah. Hal yang seperti ini perlu kita waspadai dan hindari. untuk itulah kita harus pandai mensiasati diri, supaya kita dapat menjadi hamba Allah yang dapat mempertahankan bahkan meningkat kualitas ibadahnya setelah Ramadhan. Setiap kita tentu telah amat paham betapa amal yang paling disukai Allah Swt adalah aktivitas kebaikan yang kita lakukan secara kontinyu dan berkesinambungan.
Prinsip menjaga kesinambungan amal adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam rangkaian ibadah dalam Islam, bahkan ia menjadi satu ruh yang menjiwai amalan tersebut berkwalitas atau tidak. Nabi Shallallahu' alaihiwasallam pernah ditanya: "Apakah amalan yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: "Amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan (kontinyu) walaupun sedikit" (HR. Bukhari).
Aisyah Ummul Mukminin menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling konsisten dalam melakukan amalan/ibadah (HR.Muslim).

Akan tetapi sebagai individu, manusia mempunyai hati, yang kondisinya berubah-ubah setiap saat. Ada kalanya hati sedang ingin berlomba-lomba untuk beribadah kepada Allah, namun ada kalanya juga hati ini ingin bersantai-santai dalam beribadah. Untuk itu kita harus pandai-pandai menjaga hati kita agar amal ibadah yang kita lakukan akan berlanjut secara berkesinambungan.

Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan dalam rangka menjaga kesinambungan pelaksanaan ibadah:
1. Menetapkan target.
Target disini sebaiknya bukan hanya target secara garis besar, akan tetapi dibagi untuk waktu yang lebih singkat seperti target harian atau mingguan atau per-10 harian. Dengan menetapkan target, kita dapat menjadwalkan diri kita, hari ini tugas kita adalah a, b, c dan seterusnya.
2. Mengevaluasi hasil ibadah kita.
Dengan target yang telah kita tentukan kita perlu mengevaluasikan ibadah yang sudah dilalui. Bila kita dapat mencapai target kita bersyukur kepada Allah dan juga tak lupa berikan hadiah untuk diri sendiri, dapat berupa pujian atau hal lain, agar diri kita pun terpacu mengejar target selanjutnya. Begitu pula sebaliknya, bila target tidak terpenuhi, kita evaluasi apakah kendala kita dalam mencapai target tersebut, bagaimana kita atasi kendala tersebut dan follow up-nya di hari selanjutnya. Setelah bulan Ramadhan selesai, bukan berarti ibadah yang kita lakukan terhenti. Kita teruskan amalan-amalan yang sudah kita lakukan selama bulan Ramadhan dan dengan bekal itu kita tetapkan lagi target yang goalnya adalah untuk persiapan bulan Ramadhan selanjutnya.

Ada beberapa nilai ataupun amaliah Ramadhan yang seharusnya tetap kita jaga
untuk kesinambungan gerak amal kita pasca berlalunya bulan ini, diantaranya:
a. Muraqabatullah (Pengawasan Allah).
Kita sebagai umat muslim khususnya, harus senantiasa merasa berada dalam
pengawasan Allah Swt.. Perasaan seperti ini akan sangat membantu untuk tetap
berpegang teguh dengan rambu-rambu Allah. Selain itu, muraqabatullah
merupakan pilar utama menuju keikhlasan amal dan ghirah untuk melakukan
apapun demi mencapai keridhaan-Nya. Puasa telah mendidik kita untuk selalu dalam muraqabatullah. Jika kita perhatikan, puasa menuntut kita untuk jujur dan mengikhlaskan semua amal hanya karena Allah. Siapapun tidak akan tahu apakah kita betul-betul berpuasa atau tidak. Pantas bila Allah katakan dalam hadits qudsi: ”as-shoum li wa ana ajzi bihi. ” Alangkah indahnya jika kita tetap mempertahankan hal tersebut pasca Ramadan. Allah sangat menyukai amalan hambanya yang dilakukan atas dasar ikhlas. Disamping itu muraqabatullah adalah senjata bagi seorang mukmin untuk terhindar dari hal-hal tercela yang merugikan dirinya dan orang lain.

b. Amanah Terhadap Nikmat Allah Swt.
Amanah merupakan salah satu ciri keimanan hakiki. Sebagai Umat muslim, kita harus menjaga amanah yang telah di berikan Allah kepada kita, tentunya dengan semampu kita. Amanah merupakan refleksi dari rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah. Deretan karunia Allah yang melekat di tubuh ini, hakikatnya hanyalah titipan Allah semata. Layaknya sebuah titipan, ia akan kembali ditagih suatu waktu kelak. Semuanya memang mesti kita jaga. Semuanya hanya patut kita pergunakan untuk menopang peribadatan kepada Allah, sekaligus menebar kebaikan untuk sesama.

c. Menyambung Silaturrahim
Tidak akan berdiri sebuah bangunan kokoh menjulang tanpa ada kesatuan dari unsur bahan-bahan bangunan itu. Begitulah perumpamaan diri kita. Perlu kita sadari, bahwa sebagai orang beriman kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini, yaitu menegakkan kalimat ”La Ilaha Illa-Allah”. Akan tetapi, layaknya barang berharga, tentunya memerlukan pengorbanan untuk meraihnya. Dan pasti akan banyak cobaan dan rintangan yang menghalang. Disinilah perlunya kebersamaan dalam berbuat. Tidak ada kesuksesan yang mampu dirajut dalam kesendirian. Demikian juga halnya kita sebagai muslimah, seperti bangunan tadi, kita tidak akan bisa berdiri sendiri untuk
memajukan diri dan agama ini. Perlu ada kesatuan gerak yang berkesinambungan. Perlu ada jalinan ukhuwah yang erat antara sesama kita.Penting kita ingat, bahwa eratnya jalinan persaudaraan tidak akan terbina tanpa kita mau menjaga nilai-nilai dan adab muamalah sesuai dengan tuntunan agama kita. Jika kita mampu menjaganya,
yakinlah, insya Allah kita mampu membangun diri lebih maju untuk kejayaan Islam di muka bumi ini.

Ramadan adalah madrasah ukhuwah yang paling ideal. Rasulullah sebagai qudwah kita adalah seorang yang sangat pemurah terhadap sesama dan lebih sangat pemurah disaat-saat Ramadan. Rasulullah ingin mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan yang terbaik kepada orang lain, sehingga dengan demikian rabithah ukhuwah dan silaturahim akan senantiasa terjaga.

d. Selalu Bersama Al-Quran
Bila di bulan suci Ramadan kita dengan semangat tinggi membiasakan tilawah ayat-ayat suci Al-Quran, kini apa yang terjadi setelah Ramadan berlalu? Ternyata berbagai kesibukan telah menyita waktu kita, keseharian kita sibuk dengan Dunia Pekerjaan, study, organisasi, rumah tangga, dan sebagainya. Tanpa kita sadari semua itu telah merebut perhatian kita dari Al-Quran. Seharusnya membaca Al-Quran menjadi kebutuhan vital kita tanpa mengenyampingkan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena dengannya kita bisa menumbuhkan motivasi dan semangat, khususnya ketika dalam kondisi futur. Bila di bulan Ramadan dengan semangat menggebu kita bisa mengkhatamkan Al-Quran, bahkan mungkin lebih dari sekali, lantas kenapa kita sering berat hanya untuk sekadar membaca satu atau dua halaman Al Qur’an setelah kita menyelesaikan shalat? Ketangguhan seorang pejuang dijalan Allah tidak pernah lepas dari Al-Quran, maka sebagai umat muslim dan calon-calon pencetak generasi rabbani, sudah sepantasnya kita hidupkan Al-Quran dalam ruh kita.

e. Menahan Nafsu
Nafsu merupakan fitrah yang tidak bisa dipisahkan dari hakikat manusia. Manusia
bukanlah malaikat yang terbebas dari kungkungan syahwat. Seperti yang kita ketahui, nafsu mengarah pada keburukan. Allah Swt. berfirman: ”Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan” (QS.Yusuf:53) .
Akan tetapi, bila nafsu diarahkan sesuai tuntutan Al-Quran dan sunnah, maka ketenangan jiwa yang hakiki akan selalu mendampingi kita. Mangapa kita lebih
mampu menahan pandangan, menjaga lidah, menghindari ghibah, serta tuntutan-tuntutan nafsu lainnya di bulan Ramadan? Ternyata amal ibadah yang berorientasi mendekatkan diri kepada Allah dapat membantu kita dalam menjaga diri dari segala hal yang tidak sesuai dengan norma agama ini.

3. Memberi suplemen semangat.
Suplemen semangat disini bisa kita dapat dengan mengkomunikasikan ibadah yang sedang kita lakukan kepada pasangan atau kepada anak-anak, keluarga, juga pada teman kita. Kepada pasangan kita sampaikan pujian, Kepada anak, kita bisa janjikan kepada mereka hadiah bila mereka dapat mencapai target mereka. Dan yang paling besar perannya adalah melakukan ibadah ini bersama-sama. Dengan melakukan ibadah bersama-sama kita bisa saling menyemangati sehingga terpacu melakukan ibadah-ibadah lainnya.

Sumber:
1. ( http://www.dakwatuna.com/ )
2. ( http://muslim.or.id/ )

1 Response to "MENJAGA SEMANGAT RAMADHAN"

  1. setuju banget sob, kita semestinya bisa menjaga semangat ramadhan agar ibadah kita senatiasa bagus

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam