Latest News
Paket Program Hamil

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya


Sahabat, pernah mendengar ungkapan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?

Ungkapan ini mempunyai makna yang kurang lebih bahwa karakter atau perilaku anak tidak akan jauh berbeda dengan orang tuanya.

Saya sampaikan contoh, ada teman saya berkisah. Tetangganya “Pak R” dikenal sebagai seorang Kyai di daerahnya. “Pak R” dikaruniai putra. Ada putranya yang laki-laki. Dalam perkembangannya, putra “Pak R” ini seperti salah bergaul. Dia jadi “anak nakal”. Suka minum minuman keras. Dan ugal-ugalan. Dan putra “Pak R” ini meninggal karena kecelakaan saat mengendarai motor dalam keadaan mabuk minuman keras.

Ada lagi teman saya namanya “Mas N”. Dia berkisah tentang tetangganya. Mirip dengan “Pak R”, bukan anak tapi cucu. Cucu dari “Pak Haji”. Seperti putera “Pak R”, cucu “Pak Haji” ini juga seperti salah pergaulan. Jadi remaja ugal-ugalan. Rambut dicat warna-warni. Pernah suatu kali, di kampung “Mas N” ada pertunjukan kesenian tradisional. Lokasi pertunjukan dekat masjid. Saat masuk waktu sholat, kebetulan di lokasi pertunjukan sedang check sound. Pas sholat jamaah dimulai, check sound belum berhenti. “Mas N” merasa jengkel karena suara sound system yang mengganggu orang yang sedang sholat jamaah. Kemudian “Mas N” membatalkan sholatnya dan mendatangi lokasi pertunjukan untuk menghentikan kegiatan check sound. Tapi apa yang dia dapat. Dia malah ditertawakan oleh cucu “Pak Haji” ini.

Ini hanyalah dua contoh yang saya ambil. Semoga tidak ada di dekat sahabat.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari dua kisah di atas?
Bahwa tidak selamanya anak atau keturunan orag sholeh itu menjadi orang sholeh juga. Hal ini sangat erat hubungannya dengan pole pendidikan anak dalam sebuah keluaga.

Tentang pendidikan anak dalam keuarga ini, sudah banyak contoh yang bisa kita ambil. Misalnya, bagaimana Luqman mendidik puteranya dengan menanamkan tauhid sebelum pendidikan yang lain (QS Luqman: 13-19).

Orang tua tentu menginginkan anak-anaknya menjadi orang-orang sholeh yang kelak akan mendo’akannya ketika semua amalnya sudah terputus.

Menjadikan anak sholeh tidak bisa dengan sekali “bim sala bim”. Jadi anak sholeh. Tidak demikian. Perlu waktu panjang. Sejak orang tua mulai membina rumah tangga. Bahkan saat sebelum membina rumah tangga. Bagiamana memilih pasangan (suami/isteri). Bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga. Dan lain sebagainya. Semua harus sesuai dengan garis yang sudah dituntunkan dalam al qur’an dan sunnah Rasulullah.

Pendidikan dalam keluarga menjadi hal yang utama sebelum anak-anak memasuki dunia sekolah. Di sekolah pun, peranan orang tua sangat menentukan. Sekolah seperti apa yang dipilih untuk sang buah hati.

Tidak cukup sampai di situ. Meskipun anak-anak sudah sekolah di sekolah yang Islami, bukan jaminan kelak anak tersebut akan menjadi anak sholeh. Kelakuan orang tua di rumah sangat menentukan. Karena anak hanya meniru orang tua.

Kembali pada ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Jika kita ingin buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka kita harus berprinsip “Jika menginginkan anak sholeh, orang tua harus sholeh”.

2 Responses to "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"

  1. seperti nabi Nuh a.s dan anaknya,
    seperti nabi Ibrahim a.s dan ayahnya,
    seperti nabi Muhammad saw dan pamannya,

    akhirnya hidayah itu hanyalah milik Allah,
    Dia-lah yang memberikan hidayah kepada
    siapa saja yang dikehendaki-Nya..

    mudah2an Allah selalu memberikan hidayah
    dan taufik kepada kita semua..
    salam silaturahim..

    BalasHapus
  2. anak tentunya mencontoh orangtua dan lingkungan sekitar, maka berilah contoh yang baik.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam