Latest News
Paket Program Hamil

Menikah.. Antara Keinginan dan Keraguan

Beberapa minggu terakhir ini, materi kajian rutin saya tentang pernikahan. Maka pada kesempatan ini saya membahas tentang pernikahan.
Apa yang ada dalam benak Anda ketika membicarakan atau mendengar kata nikah.
Beban berat bagaimana mencari nafkah untu keluarga?
Terbayang kesiapan Anda untuk menuju pintu pernikahan?
Seorang bidadari yang akan mendampingi hidup Anda?

Mungkin banyak hal yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata nikah.
Hmmm, nikah. Sebuah kata yang cukup singkat tapi sungguh di baliknya tersimpan sesuatu yang bisa membuat orang berpikir berulang-ulang untuk memutuskan melaksanakannya.

Ada banyak kisah menarik dari teman-teman saya ketika meutuskan untuk menikah dan melangsungkan pernikahan.

Seorang kawan bercerita, bahwa saat melangsungkan akad nikah, di dompetnya hanya ada uang Rp. 2000. Uang yang untuk mahar dikasih sama saudaranya itupun saat-saat terakhir dia mau melaksanakan akad nikah. Katanya: "Maaf, saya tidak bisa ikut pulang di hari pernikahanmu, tapi ini ada sedikit uang untuk tambah-tambah keperlauan nikahmu" Ketika dibuka amplopnya, ternyata isinya uang Rp 1 juta.
Uang itu habis untuk beli mahar dan keprluan lain. Saat dia mau pulang (waktu itu dia di Bandung, sementara pernikahan dilaksanakan di Jogjakarta) masih kepikiran ongkos buat pulang. "Alhamdulillah, dapat dari untung penjualan kitab-kitab", kisahnya.

Katika mulai memasuki rumah tangga baru, Dia mempunyai pengahsilan (gaji) Rp. 300ribuan. Dan sekarang dia bahagia dalam rumah tangga yang dibina, bahkan sudah dikaruniai 2 orang putra.

Ada lagi yang sahabat berkisah, seminggu sebelum pernikahann, dia mengalami kebangkrutan. Usaha yang dirintisnya bangkrut. Tapi sekarang dia sudah sukses, Dia menjadi tokoh yang disegani di daerah saya, dan isterinya menjadi dokter di sebuah rumah sakit pemerintah.

Banyak kisah dari teman saya yang ketika memasuki kehidupan rumah tangga dengan penghasilan kurang dari Rp. 500.000,-.
Termasuk saya. Di awal membina rumah tangga, “gaji” saya Rp. 250.000 sebulan. Itupun diterimakan setiap 3 bulan sekali. Anda bisa membayangkan, bagaimana mengelola uang sebesar itu untuk 3 bulan? Tapi rasa syukur membuat uang itu cukup untuk 3 bulan. Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik.

Saya teringat dulu sebelum nikah, pernah mengikuti kajian tentang pernikahan.
 Salah satu materi yang masih terngiang sampai sekarang adalah bahwa modal utama menikah itu adalah, pertama keimanan kepada ALLOH. Karena sudah iman kepada ALLOH maka kemudian lahirlah keyakinan bahwa janji ALLOH itu benar dan pasti, Sebagaimana janji ALLOH dalam surat An Nuur [24] ayat: 32
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

[1035] Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin”

Inilah janji ALLOH. Dan itu benar tanpa ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Keragu-raguan adalah godaan syetan.
 Bahwa ALLOH akan menjamin rezeki hambanya, sebagaimana janji ALLOH dalam surat Huud [11]:6:

“Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

[709] yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710] menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

So, masih ragu akan janji ALLOH?

Kedua, iman kepada Rasulullah. Hal ini akan melahirkan keyakinan akan janji Rasululloh. Dalam sebuah hadis yang dirwayatkan oleh HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim yang menyebukan bahwa “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah: (a) Orang yang berjihad/berperang di jalan Allah. (b) Budak yang menebus dirinya dari tuannya. (c) Pemuda yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.”

Kedua hal inilah yang semakin menguatkan niat saya untuk melaksanakan sunnah Rasul ini, MENIKAH.
Dan semua itu tebukti, saya sudah membuktikan.
Ada yang ingin segera membutikan, MENIKAHLAH…!!Seorang kawan berkata, "Menunda kebaikan itu tidak baik"

1 Response to "Menikah.. Antara Keinginan dan Keraguan"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam