Latest News
Paket Program Hamil

Mesjid...

Allah berfirman: Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah karunia Allah, diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah adalah pemilik karunia yang besar (QS. Al-Hadid: 21)
Ketahuilah, bahwa waktu selalu berputar dan umur semakin habis. Siapa saja yang merasa hawatir dan takut maka akan bersiap-siap lebih awal, sedangkan orang yang melakukan persiapan lebih dini akan sampai ke tempat tujuan. Ingatlah, bahwa barang dagangan Allah amatlah mahal. Ketahuilah, bahwa barang dagangan tersebut adalah surga. Sedangkan surga itu tidak diraih dengan angan-angan, tidak dengan keturunan ningrat, tidak dengan jasa nenek moyang, tidak pula dengan harta benda dan anak yang banyak.

Allah berfirman: Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami; tapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka itulah yang akan memperoleh balasan berlipat ganda karena amal yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga) (QS. Saba’ :37)
Siapa saja yang tidak bersegera beramal shalih tidak bisa diganti dengan keningratannya. Sungguh, surga itu hanya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal shalih walaupun mereka itu seorang budak hitam. Sedangkan neraka itu diperuntukkan bagi orang yang kafir dan ingkar terhadap Allah walaupun dia seorang mulia keturunan ningrat.
Sungguh belakangan ini, banyak kami temui orang yang bermalas-malasan dalam beramal shalih tapi amat bersemangat dalam menumpuk harta dan dalam memanjakan diri mereka. Sebagai contoh, tidak sedikit orang yang tinggal berdekatan dengan masjid, tapi mereka tidak mendatanginya untuk shalat berjama’ah dan tidak mengetahui kegiatan-kegiatan di dalamnya. Mereka hanya bertetangga masjid dengan rumahnya tapi menjauhi masjid dengan hati mereka. Hal itu adalah sebagai bukti kelemahan iman mereka bahkan bisa jadi tiada iman dalam qalbu mereka sama sekali. Karena meramaikan masjid dengan shalat berjama’ah, ibadah dan selalu bolak balik ke sana untuk melakukan segala amal shalih adalah bukti nyata iman seseorang.
Allah berfirman: Sesungguhnya yang meramaikan masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepadaNya dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) kecuali hanya kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk (QS. At-Taubah: 18)
Nabi bersabda: “Jika kalian melihat seseorang yang biasa pergi ke masjid, maka persaksikanlah bahwa dia itu beriman, kemudian beliau membaca ayat di atas.
Padahal di sisi lain Anda lihat mereka selalu memenuhi aneka pasar dan pertokoan serta memakan rizki Allah. Mereka enggan bahkan tidak mau pergi ke masjid dan menyertai kaum muslimin dalam mengerjakan syi’ar-syi’ar agama Islam. Mengenai hal ini, Allah berfirman: Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang amat merugi (QS. Al-Mujadalah: 19). Mereka mengharamkan diri mereka dari pahala berjalan menuju masjid, kebaikan-kebaikan lainnya dan penghapusan dosa -karena langkah-langkahnya menuju masjid- tapi mereka justeru menetapkan dosa-dosanya atas diri mereka sendiri.
Sebagian yang lain pergi ke masjid dengan rasa malas dan terpaksa. Mereka sempatkan waktu tidak lama dengan rasa bosan. Mereka ini, jika mendengar iqamat baru berlari ke masjid, lalu memasuki masjid dengan pikiran dan nafas yang tidak tenang. Mereka ini tidak memelihara etika dan adab masuk masjid dan tidak mengerjakan sunnah Nabi , karena beliau telah bersabda: “Jika kalian mendengar iqamat, berjalanlah –untuk mendatanginya- dengan rasa tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah dan raka'at yang tertinggal maka sempurnakanlah.” Mereka ini tidak mendapatkan pahala pergi berjalan ke masjid dan ganjaran menunggu shalat. Nabi telah memberitakan bahwa orang yang duduk di masjid menanti shalat adalah seperti orang yang tetap dalam barisan jihad. Dia juga mendapatkan pahala seperti orang yang sedang mendirikan shalat selama dia berada di masjid menunggu shalat, malaikat memintakan ampunana baginya selama dia dalam kondisi demikian. Tapi era sekarang, saat muadzin mengumandangkan adzan dan waktu berlalu lama sedangkan masjid masih sepi, mereka baru datang dengan rasa bermalas-malasan ketika shalat di-iqamatkan.
Bahwasanya telat dalam mendatangi shalat berjamaah menyebabkan kehilangan banyak pahala, disamping menyebabkan tindakan meremehkan shalat yang pada akhirnya menyeret kepada meninggalkan shalat jamaah. Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Abi Sa’id Al-Khudri, bahwasanya Nabi melihat sebagian shahabat terlambat, maka beliau berkata kepada mereka: “Majulah dan bermakmumlah dengan diriku dan hendaknya orang-orang yang datang setelah kalian bermakmum dengan kalian. Sedangkan kaum yang selalu terlambat maka Allah akan mengakhirkan mereka.”.
Hadits ini menunjukkan kadar bahaya terlambat dan telat menghadiri shalat jamaah. Sedangkan orang yang telat mendatangi shalat berjamaah akan mendapatka balasan dari Allah dengan diakhirkan dari rahmat dan keagungan anugerahNya.
Dalam menggerakkan setiap jiwa agar tidak telat dalam mendatangi shalat jamaah di masjid, cukuplah dengan ancaman adanya keserupaan degan orang-orang munafik yang telah disebutkan Allah dalam ayat-ayatNya:
Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan rasa malas (QS. At-Taubah: 54). Dan dalam ayat yang lain: : Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas (QS. An-Nisa: 142).
Kami yakin, jika mereka tahu akan ketinggalan dari hal duniawi maka mereka akan datang di awal waktu bersama yang lain dan mereka akan sabar duduk menanti berjam-jam tanpa rasa jenuh dan bosan. Hal ini karena dunia lebih mereka cintai daripada akhirat. Sungguh pada masa belakangan ini, masjid-masjid menjadi sepi dan ditinggalkan kaum muslimin serta pintunya selalu tertutup, tidak terbuka kecuali beberapa menit sekedar untuk melakukan rutinitas kegiatan shalat dengan agak tergesa-gesa.
Sungguh masjid-masjid sekarang mengadu karena sedikitnya jumlah orang yang datang pergi mengunjunginya dan duduk-duduk di dalamnya untuk berdzikir kepada Allah. Masjid-masjid sekarang telah kehilangan orang-orang yang selalu bertasbih mensucikan Allah pada pagi dan sore hari, yaitu mereka yang tidak larut sebab perdagangan dan jual beli hingga lupa dzikir kepada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Mereka itu adalah-orang yang takut terhadap suatu hari yang pada hari tersebut hati dan pandangan manusia menjadi tergoncang (hari kiamat).
Masjid-masjid sekarang telah kehilangan orang-orang yang beri’tikaf dan orang-orang yang senantiasa shalat di dalamnya, yaitu orang-orang yang meramaikannya baik di waktu siang atau malam hari. Padahal masjid-masjid pada masa lampau adalah pusat peribadatan, tempat menuntut ilmu dan ajang pertemuan kaum muslimin dalam memecahkan berbagai problem mereka. Dalam masjid mereka saling kenal, saling bekerja sama, saling memperbanyak bekal akhirat dan memperkokoh iman mereka serta menguatkan keyakinan. Hanya dengan masjid hati mereka terpaut dan kepadanya hati mereka merindu. Masjid merupakan sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada rumah dan harta benda mereka. Mereka tidak merasa bosan dan jemu selalu bolak-balik dari dan kepadanya walaupun jauh jaraknya. Mereka mengharapakan pahala dari setiap langkahnya dan mengembangkan waktunya, hingga mereka selalu berlomba-lomba di awal waktu dalam mendatangi masjid. Ini adalah kondisi orang-orang pendahulu kita.
Sedangkan sekarang –seperti yang Anda tahu- amat banyak orang yang telat dan terlambat dalam mendatangi masjid bahkan banyak yang melupakannya, sedikit orang yang duduk berdzikir di dalamnya. Dengan demikian mereka tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan yang sangat banyak. Justeru bertambah lemah kedudukan masjid di hati umat, sedikit sekali pengaruhnya. Kemudian muncullah jafa’ (hubungan hambar), hati yang saling berjauhan dan pudar ikatan di antara mereka hingga sering terjadi seorang tetaangga tidak kenal tetangganya yang lain, bahkan lebih tragis lagi tidak mengetahui kondisinya (sehat, sakit atau tertimpa kesusahan dan lain sebagainya).
Maka dari itu, wahai hamba-hamba Allah bertakwalah kepada Rabb kalian. Kembalikanlah kepada masjid kalian peranan dan kedudukannya di hati kalian. Pergilah kepadanya di awal waktu dan perbanyaklah duduk di dalamnya. Perhatikan hadits Nabi yang menganjurkan umat agar memperbanyak langkah ke masjid dan duduk di dalamnya supaya kalian termasuk orang-orang yang ingat. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Shalat seseorang dengan berjama’ah dilipat gandakan atas shalatnya di rumah dan atau di pasar dengan lipat 25 derajat. Hal itu karena jika dia berwudhu lalu menyempurnakannya lalu keluar untuk shalat, dia tidak keluar kecuali hanya untuk shalat, dia tidak melangkah selangkahpun kecuali ditinggikan kedudukannya sederajat dan dihapus dengan selangkah yang lain sebuah dosanya. Jika dia shalat, malaikat selalu mendoakannya selama dia berada di tempat shalatnya “Ya Allah rahmatilah dia”. Dan dia di hitung dalam shalat selama dia menanti shalat.” (HR. Bukhari)
Dalam “Al-Muwatha’- Imam Malik meriwayatkan: “Barang siapa yang berwudhu lantas menyempurnakan wudhunya lalu keluar untuk melakukan shalat, maka sesungguhnya dia berada dalam shalat selama dia ingin melakukan shalat, dan ditulis untuknya sebuah hasanah atas salah satu langkahnya dan dihapus dari dirinya sebuah kesalahan dari langkahnya yang lain. Jika salah seorang di antara kalian mendengar iqamat maka janganlah berlari. Sesungguhnya pahala yang terbanyak adalah yang terjauh jarak rumahnya -dari masjid-, mereka bertanya: kenapa demikian hai Abu Hurairah? Beliau menjawab: karena banyak langkahnya.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda: “Maukah kalian saya beritahu sesuatu yang dapat menghapus dosa dan meningggikan derajat?.” Para sahabat menjawab: tentu, Ya Rasulullah. Beliau mengatakan: “Menyempurnakan wudhu atas hal-hal yang dibenci, memperbanyak langkah ke masjid dan menanti shalat setelah shalat. Itu adalah seperit dalam barisan jihad fi sabilillah.” (HR. Malik dan Muslim)
Dari Buraidah, dari Nabi , beliau bersabda: “Kabarkan berita gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki ke masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat .” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, dari Nabi , beliau bersabda: “Tempat yang amat disukai Allah adalah masjid-masjidnya sedangkan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)
Sungguh Allah amat mengagungkan perkara dan urusan masjid, memuji orang-orang yang meramaikannya dengan berbagai macam amal taat dan menjanjikan kepada mereka pahala yang amat besar. Allah berfirman: “Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya didalamnya, pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sholat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut akan suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihtan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nuur: 36-38).
Demikian, semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, segenap keluarga dan seluruh sahabatnya serta setiap orang yang meniti jalannya hingga hari kemudian. Amien..

1 Response to "Mesjid..."

  1. Masyarakat pada umumnya kurang mengetahui tentang wajibnya laki-laki shalat wajib 5 waktu berjamaah di masjid, sehingga mereka merasa cukup shalat di rumah.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam