Latest News
Paket Program Hamil

(GoVlog-Umum) Mengapa Takut Menghadapi Perubahan?



Hidup adalah sesuatu yang dinamis. Selalu berubah. Mulai dari bayi berubah jadi anak-anak, lalu menadi remaja terus remaja dewasa menjadi pemuda dan sertusnya sampaiakhirnya yang hidup pun menjadi mati.
Itulah kehidupan. Selalu berubah setiap saat tanpa pemberitahuan.

Satu pepatah yang mengatakan “Hidup bagaikan roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, kadang kita berada di bawah”. Yang akan saya bahas disini bukan posisi kita sedang di atas atau di bawah sebagaimana pepatah tersebut, tapi perubahan itu sendiri.

Ada juga ungkapan “Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri” Kalimat ini memang mudah diucapkan tetapi tidak udah untuk dipahami (baca:dilaksanakan). Ungkapan yang lain tentang perubahan: Yang terberat adalah langkah memulai perubahan

Dan merubah sesuatu yang sudah seatle, nyaman adalah pekerjaan yang sangat berat. Apalagi jika yang dihadapi adalah orang-orang sepuh yang masih sangat memegang teguh tradisi atau kebiasaan yang sudah berlaku lama di masyarakat yang entah itu benar atau salah.

Kejadian yang saya alami yang akan saya ceritakan berikut ini semoga bias menjadi semakin memudahkan kita memahami perubahan dan bagimana memulai suatu perubahan.

Pasnya ketika Ramadhan yang lalu. Biasa di masjid kampung saya Ramadhan dibuat jadwal kultum ba’da sholat tarawih dan jadwal imam tarawih. Kebetulan saya mendapat jadwal kultum tarawih dan secara dadakan sring juga menjadi imam sholat tarawih menggantikan imam tarawih yang sudah ada namun berhalangan. Kebiasaan di masjid kami sholat tarawih dipimpin oleh Bapak Imam Yang Sepuh. Saya menyebut demikian karena saya enggan menyebut nama beliau untuk alsan privasi.

Sehari dua hari, Bapak Imam Yang Sepuh itu tidak dating ke masjid untuk sholat tarawih. Keluhannya macam-macam. Kadang sakit perut, kadang pusing, di hari lain katanya berbuka makan telalu pedas akhirnya harus sering ke kamar mandi alias BAB terlalu lancar alias m***ret.

Bagitulah, jika Beliau tidak datang maka kami yang muda-muda biasanya yang menggantikan. Ada sih imam pengganti yang lain. Tapi malam itu saya yang disuruh maju menjadi imam.

Perlu saya jelaskan dulu kebiasaan sholat tarawih di masjid kami. Sholat tarawih d masjid kami dilaksanakan setelah sholat isya’ 11 raka’at. Empat raka’at salam empat raka’at salam ditambah witir tiga raka’at. 4-4-3. 
Dan di antara sholat satu dengan yang lain diselingi dengan berdo’a yang dipimpin oleh imam.

Nah, pas saya yang maju menjadi imam malam itu, saya melakukannya dengan sedikit berbeda dengan kebiasaan yang sudah berlaku selama ini. Yang saya lakukan sebagian besar sama. Saya sholat tarawih juga 11 raka’at. Empat raka’at salam empat raka’at salam ditambah witir tiga raka’at. 4-4-3. Yang berbeda adalah saya tidak memimpin doa diantara sholat satu dengan sholat berikutnya.

Sebenarnya bukan saya saja yang melakukan hal seperti itu, tidak memimpin doa diantara sholat satu dengan sholat berikutnya. Ada lagi teman yang lain melakukan hal yang sama.
Kabar saya dan teman yang memimpin sholat berbeda dengan Bapak Imam Yang Sepuh ini rupanya terdengar sampai ke beliau, Bapak Imam Yang Sepuh.

Perbedaan cara sholat inilah yang kemudian menimbulkan “sedikit masalah”. Kami dianggap membawa ajaran baru. Membawa pengaruh jama’ah lain. Hal ini sampai disampaikan di forum kultum dimana seharusnya hal itu tidak terjadi.

Saya melihat gelagat yang kurang baik dari Bapak Imam Yang Sepuh yang naik mimbar kultum malam itu. Kebetulan malam itu saya membawa handphone yang bisa untuk merekam. Saya langsung merekam kultum dan sampai sekarang, rekaman itu masih tersimpan di handphone.

Malam itu, saya juga mengirim sms ke seorang  teman “Mengawali perubahan itu memang berat, tetapi tetap harus ada yang memulai”. Dia balas sms itu dengan empat buah tanda tanya, “????”

Pada hari lain saya juga menulis di twitter dengan hastag #tradisi


“Mengawali perubahan itu berat tapi harus tetap dilakukan... #tradisi
“Jadi teringat ttg kisah para Nabi yg selalu mndpt jawaban dr kamunya: “Kami hanya mengikuti para leluhur kami” #tradisi
“Ketika yg melakukan perubahan adl org terpandang maka itu dianggap biasa, “ah gak pa pa” tp kalo org kecil, muda “rasah aneh-aneh” #tradisi


Begitulah, kami yang muda ingin melakukan perubahan tetapi harus berhadapan dengan para orang tua kami yang seperti saya sebut di atas, sangat memegang teguh tradisi atau kebiasaan yang sudah belaku lama di masyarakat. Kami dianggap mbalelo, nganeh-anehi, nggawe bab anyar, ngowah-owahi adat dan sebagainya.
Saya dan teman-teman yang sudah sama-sama memahami tantangan dakwah menganggap hal itu sebagai tantangan yang harus kami hadapi ketika akan mencoba memabawa perubahan. 




0 Response to "(GoVlog-Umum) Mengapa Takut Menghadapi Perubahan?"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam