Latest News
Paket Program Hamil

(GoVlog-UMUM) Satu Pelajaran dari Mbah Kardi


Sabtu pagi. Hari libur. Setelah menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid aku menyelesaikan target tilawah buat beberapa twit di twitterku @akhnurhadi, aku menyiapkan sepeda. Ya, setelah lebaran ini, aku memang belum berolah raga. Selesai memakai sepatu, trus ku mulai mengayuh sepeda. Lewat depan rumah temen, “Putra ada?” tanyaku pada Ima, kakak Putra. “Ada, lagi mau berangkat”. Berangkat kemana, pikirku. O iya, aku lupa kalau hari ini Sabtu, Putra mau berangkat sekolah. Kebawa suasana liburan, ingetnya minggu terus.

Mengayuh sepeda dalam segarnya udara pagi, ditambah suasana mendung. Headset kupasang ditelinga, medengarkan lagu-lagu jaman “muda”. Hahai, “jaman muda”, memang sudah tuwir? Maksudku, lagu-lagu yang terkenal jaman aku SMA. Aku memang lebih senang sama lagu-lagu yang agak lama. Sheila on 7, Padi dan band-band yang seangkatan mereka ke bawah. Lagu-lagu band baru gak asik di denger kalo menurut aku. Karena liriknya ga berkembang. bahas cinta semua. Eh, malah ngomongin band.

Sementara musik terus berputas dari handphoneku, kakiku terus mengayuh pedal sepeda pemberian kakakku itu.

Menyusuri jalan di tengah dusun, bertemu orang-orang yang sibuk dengan rutinitas pagi. Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, seorang anak perempuan yang memanasi mesin motor bersiap berangkat sekolah. Sesekali melempar  senyum kepada mereka sambil menyapa, “Nderek langkung, Bu”  atau “Monggo, Pak”. Ah, ternyata masih ada keramahan di bumi Indonesia. *love IndONEsia*

Terus mengayuh sepeda. Sampai di depan rumah seorang kakek. Mbah Kardi. Aku meghampirinya.
“Pripun kabare, Mbah? Sehat to?” (“Bagaimana kabarnya, Kek? Sehat, kan?”)Tanyaku sambil menyalami tangannya.
“Yo ngene iki, Le. Sehat-sehate wong tuwo” (Ya begini, Nak. Sehatnya orang tua”) Jawabnya.
“Mboten tindak sabin?” (“Tidak ke swah?”) tanyaku lagi.
“Halah, sawah ngendi to, Le? Ra duwe sawah”. (Halah, sawah mana to, Nak. Tidak punya sawah”)
Obrolan mengalir begitu saja. Sampai dia cerita kalau anaknya yang jadi tentara di Jakarta baru saja pulang dan member uang untuk membuat kamar mandi.
“Ben Bapak orang repot nek arep ning kamar mandi” (“Biar Bapak tidak repot kalau mau ke kamar mandi”). Katanya menirukan omongan anaknya.

Aku diajak Mbah Kardi masuk rumahnya. “Iki lho, Le. Gawe omah seprono-seprene ra dadi-dadi” (“Ini lho, Nak, Bikin rumah sudah lama nggak jadi”) terangnya sambil melihat sekeliling rumah menunjukkan tembok rumah yang masih bata merah belum diplester.
Mbah Kardi melanjutkan cerita tentang anaknya yang tinggal di Surabaya yang baru saja meninggal dunia. 
Bahwa dia adalah anak yang paling penurut.  Katika aku Tanya perihal sakit yang diderita puteranya itu, Mbah Kardi bilang bahwa anaknya itu terkena diabetes.
“Lha wong sorene bar  telpon, ngandakke nek mlebu rumah sakit. Kok bar magrib si Misran ki moro karo nangis. Ngandakke nek mbak Yem ra ono”(Lha baru sore telpon, member kabar kalau masuk rumah sakit, kok setelah maghrib, si Meisran dating sambil menangis, mengatakan bahwa Mbak Yem meninggal”). Kisahnya.
“Tahun iki bocahe ki le tilik mrene malah ping telu. Tak kon manggon kene ra gelem. Rekane ben nagncani aku ning kene. Eee, ndilalah kersaning Allah”. (Tahun ini sudah tiga kali pulang menjenguk. Saya suruh tinggal di sini tidak mau. Maksudny biar menemani saya di sini. Eee, Allah berkehendak lain”) Lanjutnya.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada yang menunggu di rumah. Aku terus berpamitan, kebetulan memang sudah jam 7:30 dan tukang batu yang mau menyelesaikan pekerjaan membuat kamar mandi Mbah Kardi sudah datang.
“Mbah, kula wangsul rumiyin nggih. Niki wonten ingkang madosi kula”(Kek, saya minta pamit dulu. Ada tamu di rumah). Aku berpamitan
“Wah, lagi jagongan we kok. Yoh kono, ngati-ati le momong anak bojo”. (Wah, baru ngobrol ini. Ya sana,  hati-hati menjaga anak isteri”)
“Nggih mbah, nyuwun tambah pangestu”. (Ya Kek, minta tambah doa restu). Jawabku sambil menyalamai tangannya yang keriput itu.
Aku bergegas pulang.

Sahabat, ada hikmah yang bias kita ambil dari obrolanku dengan Mbah Kardi itu. Bahwa, kematian itu sangat dekat. Tidak menunggu sampai tua. Muda mati, tua juga mati. Bahkan bayi juga ada yang mati.




“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS. 63:11)



0 Response to "(GoVlog-UMUM) Satu Pelajaran dari Mbah Kardi"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam