Latest News
Paket Program Hamil

Mengapa Kita Batasi Kesuksesan Kita?


Pagi hari, pas mau berangkat kantor, saya mendadak dibuat kelimpungan. Kunci motor Honda Grand ku “ketlingsut” (Jawa= tidak ada karena lupa menaruh-red). Mencoba mencari di tempat biasa ngga ada juga. Cari di tas, juga belum ketemu. Nyari di “centhelan” (gantungan-red) kunci deket motor diparkir juga nihil. Aku menelpon isteri yang sudah berangkat lebih dulu. Dia juga nggak tahu kemana..kemana..kemana… (ayu ting ting mode=on)…

Akhirnya, dengan “teknik maling” yaitu dengan memutus sambungan kabel (bingung le arep jelaske), intinya aku bisa menghidupkan motor pertama dalam hidupku itu tanpa kunci kontak.
Yang penting bisa berangkat sampai kantor dulu, kunci nanti buat di tukang kunci, pikirku. Diiringi perasaan khawatir bensin habis karena sudah beberapa hari tidak isi bensin, akhirnya sampai juga saya di kantor.

Setelah jam kantor saya segera menuju ke tukang buat kunci, dan tidak lebih dari 10 menit, kunci duplikat untuk motor saya sudah jadi. Dengan biaya Rp. 10,000, saya bisa mendapatkan kunci baru.

Kehilangan kunci. Ya, peristiwa kehilangan kunci adalah peristiwa yang menjengjelkan. Bagimana tidak? Kunci adalah sesuatu yang sangat penting bagi pemiliknya, tapi tidak penting sama sekali bagi orang lain. Pernah kan, Sahabat menemukan kunci di jalan atau di manapun. Nah, kira-kira, kunci itu ada manfaatnya bagi Sahabat atau tidak? Tentu tidak ada. Karena sebuah kunci di buat hanya cocok untuk lobang kunci jodohnya. Dalam beberapa kasus memang ada kunci yang bisa untuk lobang kunci bukan jodohnya. Tapi itu sangat jarang terjadi.

Bagi orang yang kehilangan kunci, wah itu merupakan masalah besar. Kalau kunci itu masih ada duplikatnya sih tidak masalah. Sepeti kejadian yang saya alami itu. Untunglah, kunci motor saya termasuk kunci yang mudah dibuat.

OK, itu masalah kunci motor. Bagaimana dengan kunci untuk meraih sukses?
Persaingan dalam dunia kerja saat ini sungguh luar biasa ketatnya. Angkatan kerja yang ada tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Akibatnya, banyak pengangguran dimana-mana. Ketiadaan pekerjaan ini juga memicu lahirnya pelaku kriminal. Karena tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, banyak orang menempuh jalan pintas untuk mendapatkan uang. Ya apalagi kalau tidak melakukan tindakan kejahatan. Atau tuntutan gaya hidup. Keinginan untuk seperti orang lain dalam hal penampilan juga menjadi biang lahirnya pelaku kriminal baru. Keinginan untuk sukses dengan cara instan.

Inilah yang terjadi jika cara pandang kita terhadap kesuksesan hanya sebatas banyak uang, penampilan parlente, mobil bagus, gadget canggih.

Jika kita memandang kesuksesan sekedar banyak uang, mobil bagus, isteri cantik, dan yang sebangsa dengan itu, berarti kita mempersempit makna kesuksesan itu hanya pada satu sisi saja.
Kesuksesan itu meliputi banyak hal. Tergantung dari mana kita memandangnya. Cara pandang inilah yang membatasi kesuksesan kita.

Dan sesungguhnya sukses itu hanyalah bagian kecil dari sebuah proses panjang dalam menjalani kehidupan ini. Kita terbiasa hanya memandang setelah proses terjadi. Yang kita lihat hanya hasilnya, bukan bagimana sukses itu dicapai.

Sebagai contoh, kita melihat kesuksesan Bob Sadino, atau orang sukese yang belum lama menjadi popular seperti Ippho Santoso dengan 7 Keajaiban Rejeki, Kek Jamil Azzaini dengan training-training yang sangat megesankan. Mereka, orang-orang sukses itu yang seperti kita lihat sekarang adalah hasil dari sebuah proses panjang yang sudah mereka lalui di masa lalu.

Mari kita ubah cara pandang kita tentang kesuksesan. Karena sukses itu bukan sekedar banyak uang.
Dan kunci untuk meraih sukses adalah focus pada satu bidang, jalani dengan serius dan sepenuh hati.
Ingat cerita kodok yang berhasil mencapai finish dalam sebuah perlombaan?

Jadi, ada perlombaan yang pesertanya adalah kodok. Banyak sekali yang ikut lomba. Penonton juga banyak. Ketika perlombaan dimulai, semua perserta dengan penuh semangat beraksi. Bersaing untuk mencapai finish. Penonton pun tak kalah seru. Member semangat dan ada juga yang mencemooh, mendiskreditkan .,. halah bahasane … para peserta. Mendengar cemoohan penonton, banyak dari peserta yang termakan dan kemudian mundur di tengah jalan. Tetapi ada 1 peserta yang berhasil mencapai finish. Setelah pengumuman pemenang, barulah diketahui bahwa kodok pemenang lomba itu “tuli”.

Dari kisah kodok juara ini kita bisa mengambil ibroh atau pelajaran, bahwa ketika kita melakukan suatu usaha maka akan banyak yang memberi dukungan dan semangat, dan tak jarang yang memberikan kritikan, mencemooh, atau merendahkan. Untuk semangat yang diberikan oleh orang lain kita jadikan energy positif untuk kemajuan usaha kita. Sedangkan untuk kritikan, cemoohan terhadap langkah kita, anggap saja itu sebagai angin lalu. Tidak usah terlalu dimasukkan hati. Karena ketika hal itu terlalu masuk ke dalam hati, maka itu akan membuat kita jadi kendor semangat yang pada akhirnya bisa menghentikan langkah kita dalam mencapai kesuksesan. Kita jawab hinaan dan cemoohan itu dengan hasil karya nyata. Sebagaimana kodok tuli pemenang lomba, dia tidak mendengarkan hinaan, cemoohan dari penonton kepadanya, maka dia bisa jadi juara. Sedangkan kodok yang lain, yang tidak tuli itu terlalu mendengar omongan orang tentang dia dan mengendorkan semangat dalam langkah menuju finish.

0 Response to "Mengapa Kita Batasi Kesuksesan Kita?"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam