Latest News
Paket Program Hamil

Semua Bisa Berubah

Dalam suatu pelatihan pengembangan diri seorang motivator membuka pelatihan dengan menjelaskan tentang perubahan. Setiap saat orang -sebernarnya semua hal- mengalami perubahan. Ada perubahan ke arah lebih baik alias meningkat ataupun berubah ke arah yang jelek atau merosot.

Apa sih yang dimaksud perubahan? Suatu contoh, manusia mengalami perubahan. Mulai dari bayi dan seterusnya berubah menjadi dewasa. Ini disebut perubahan. Yang berubah semakin menua. Secara fisik, bayi sampai dewasa tidak banyak perubahan. Bayi ada semua organ tubuh, manusia dewasa sampai tua juga ada organ tubuh yang sama, hanya saja secara fungsi ada perubahan. Kaki, misalnya. Seorang bayi juga punya kaki, begitu dewasa fungsinya menagalami peningkatan, bisa digunakan untuk berjalan dan setelah menua, fungsi kaki akan mengalami penurunan tidak bisa selincah saat masih muda.

Lalu bagaimana dengan transformasi. Contoh mudahnya adalah kupu-kupu. Perubahan yang sangat signifikan dalam setiap fase. Mulai dari telur, kemudian menjadi larva, ulat dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Inilah transformasi.

Dalam dunia bisnis, perubahan perilaku konsumen sangat luar biasa. Jaman dulu, dalam hal jual beli dikenal model barter atau tukar menukar barang. Penjual dan pembeli saling behadapan. Sekarang di era canggih, perilaku pelaku pasar sudah berubah. Orang melakukan aktifitas jual beli tidak harus berhadapan. Maraklah jual beli on line.

Terimalah Aku Apa Adanya...!!

Dalam hal hubungan dengan pasangan -menikah- prinsip perubahan juga harus diterapkan. Dalam artian, bahwa masing-masing individu dalam rumah tangga harus merelakan dirinya berubah memenuhi keinginan pasangan.

Kata-kata "terimalah aku apa adanya" sering kita dengar. Sesungguhnya dalam kalimat tersebut tersirat makna yang justru tidak baik. Karena dalam kalimat tersebut ada perasaan enggan untuk berubah.
"Saya ini dari sejak kecil ya begini, jangan kau coba merubahku. Terimalah aku apa adanya" 
Sebuah rumah tangga, adalah gabungan individu yang sangat berbeda. Karena masing-masing terlahir dari kaluarga yang berbeda. Bahkan dari kultur budaya yang bebeda. Lingkungan keluarga sangat ber[engaruh dalam pembentukan karakter seseorang. dua orang anak dari orang tua yang sama pun tidak mungkin sama karakternya, apalagi dua orang yang berbeda kultur.

Dalam kajian keluarga bersama Pak Cahyadi Takariawan, beliau mencontohkan dalam satu rumah tangga baru, suami isteri berasal dari dua suku yang berbeda. Isteri terlahir dari kelurga yang sangat lembut, dan sejak kecil sampai dewasa -dalam keluarga- tidak pernah mendengar kata kerja perintah. Setiap kali ayah si wanita ini "memerintahkan sesuatu", cukup dengan kata yang selain kata perintah. Misalnya, si Ayah ingin memerintahkan anaknya menrapikan kamar tidurnya, dia cukup bilang, "Nak, punya waktu luang apa tidak? Ayah buru-buru mau pergi, tetapi kamar Ayah masih berantakan", maka si Anak sudah paham maksud ayahnyam bahwa dia diperintah untuk merapikan kamar.
Sementara si Suami dari wanita ini, berasal dari daerah dengan kultur "keras".  Semua perkataannya adalah kata kerja perintah. Misal sang Suami minta dibuatkan kopi,  "Oi, buatkan kopi" dan sebaginya.
Si Wanita, isterinya, yang sejak kecil dididik dalam kultur penuh kelembutan, sangat terkejut malihat kenyataan bahwa suaminya seperti ini. Satu dua bulan si Isteri bisa bertahan, Namun selang beberapa bulan, si Isteri tidak kuasa menahan diri, akhirnya dia beranikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada sang Suami. Akhirnya sang Suami bisa menerima apa yang menjadi keberatan Isteri, dan rumah tangga ini "menjadi normal" bahkan sang Suami lebih terwarnai oleh sang Isteri.

Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa menuntut kepada pasangan untuk menerima apa adanya itu bukan tanpa diiringi keinginan untuk berubah.Ini berarti juga bahwa, akhlaq itu bisa diubah. Tergantung niat dan lingkungan -terima kasih komentarnya, mas Endra Ghi-. Seorang penjahat, yang sungguh-sungguh berniat untuk berubah,  kemudian hijrah dan tinggal di lingkungan yang alim, akan membawa dampak pada perubahan akhlaq.

Dalam rumah tangga, yang paling baik adalah yang paling cepat menyesuaikan dengan keinginan pasangan.
Jangan sampai sikap egois salah satu pasangan menjadi penghalang untuk menerima dan mengakui kesalahan diri.

8 Responses to "Semua Bisa Berubah"

  1. Berguna ini buat yang membina rumah tangga atau calon seperti saya. :D

    Memang benar sih, manusia itu harus dinamis. Memberi dulu baru menerima. Kalo kita bisa menyesuaikan diri dengan pasangan, pasangan kita tentu dengan sukarela menyesuaikan diri dengan kita. :)

    BalasHapus
  2. Benar skali,wlau kdang utk bs menyesuaikan diri ga mudah dan btuh proses :)

    BalasHapus
  3. @I2-Harmony & Juwita Hsu, mari belajar bersama..

    BalasHapus
  4. Memang dalam Rumah Tangga, orang yang berpengaruh adalah Suami...Jika seorang Istri tidak patuh or Mokong sama suaminya,,Maka yang perlu dipertanyakan adalah Bagaimana sang suami mendidik Keluarganya sehingga terjadi hal demikian.
    Hehehehe...Mohon maaf jika kurang berkenan...

    BalasHapus
  5. @mrofiudin, ya begitulah. bahjan ada yang memahami, bahwa semua kewajiban rumah tangga itu adalah tanggung jawab suami.
    BTW, dah jadi suami belum nii... :)

    BalasHapus
  6. hehehehe..Belum Pak...ya mohon Bantuan Do'anya aj,,,Supaya nanti dapet Istri yang Soleha....Amiien..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam