Latest News
Paket Program Hamil

Belajar dari Jagung


James Bender dalam bukunya, "How to Talk Well"  menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan petani dengan jagung terbaik sepanjang musim.

belajar dari jagung
Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut. Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

"Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?" tanya wartawan, dengan penuh rasa heran dan takjub.
"Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula," jawab petani.

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.
Dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan untuk orang lain. Jika Anda ingin hidup dengan kemakmuran, maka Anda harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar Anda.

Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim/Leader yang hebat, jika Anda tidak berhasil meng-upgrade masing-masing anggota tim Anda. KUALITAS ANDA DITENTUKAN OLEH ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA.

Orang Cerdas sejatinya adalah orang yang mencerdaskan orang lain, begitu pula orang yang baik adalah orang yang mau membaikkan orang lain...
Apa yang kita tanam, itulah yg kita petik kelak... :)

3 Responses to "Belajar dari Jagung"

  1. wahh..iya juga ya..baru nyadar ni tentang filosofi jagungnya..
    tetep niceee aja ya tulisannya ..:)

    BalasHapus
  2. eee ada tamu dari jauh... selamat datng lagi di sini,,, apa kabar medan?

    BalasHapus
  3. saya jadi berfikir panjang kemudian
    analogi diatas sangat menarik, hanya saja ada sedikit gesekan dengan isme yang sempat merasuk saya yaitu masalah warna.
    ada pepatah yang bilang "warnailah lingkungan dan jangan lingkungan yang mewarnai kita"
    analogi warna ini mungkin bisa matching dengan contoh kasus :"tidak semua orang yang ada diterminal itu preman. ada seorang pemuda penjaga mushola kecil yang hidup ala kadarnya tapi dia tidak terpengaruh oleh lingkungan preman disekitar dia, bahkan dari waktu ke waktu, tingkat kejahatan di terminal tersebut bisa ditekan karena pemuda yang bersangkutan sanggup meraih dan merangkul pemuda seumurannya di terminal tersebut"

    yang membuat agak sedikit rancu antara kasus jagung dan warna adalah siapa yang menentukan siapa?

    hehehhe....mari kita berfikir bersama

    kalau kesimpulan sementara dari saya sih
    banyak kata2, kalimat2 dan petuah2 bijak yang kita dengar, pada dasarnya tidak seperti ilmu eksakta 1+1=2
    analogi jagung saya setuju, analogi warna tidak ada salahnya. meski bertolak belakang dalam arti kalimatnya, maksud dan tujuan tentu sama "untuk lebih baik dari waktu ke waktu" tinggal kebijaksanaan yang kita miliki yang menentukan apa yang harus kita lakukan

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam