Latest News
Paket Program Hamil

Buat Apa Ijazah?

Sulitnya lapangan kerja membuat sebagian pencari kerja stress. Frustasi karena tidak mendapatkan kerja. Sekian lamanya menempuh pendidikan. Mulai TK sampai perguruan tinggi dilakonin. Dengan harapan setelah lulus bisa mendapat kerja dengan gaji tinggi. Tapi kenyataan berkata lain. Harapan tinggal harapan. Tak jarang, orang-orang yang frustasi karena tidak mendapat pekerjaan yang sesuai keinginan, melakukan tindakan kriminal. Ini biasanya dilakukan orang-orang yang sempit jalan pikirannya. Sekedar cepat mendapat uang. Apalagi sudah menanggung beban rumah tangga. Tapi tidak sedikit yang kemudian berjuang sehingga kondisi yang ada berbalik. Dia menjadi pemenang.

Di sinilah kita sebenarnya harus cerdas memilih. Mau tetap menjadi pencari kerja atau justru menciptakan lapangan kerja. Pilihan kedua tentu lebih utama. Menjadi solusi bagi orang lain, para pencari kerja.

Sebagai seorang agen asuransi berlisensi AAJI, saya berusaha untuk merekrut agen asuransi. Untuk keperluan tersebut, saya sengaja memasang iklan di Harian Kedaulatan Rakyat. Kebetulan ada teman yang kerja di perusahaan periklanan.Iklan lowongan kerja yang dimuat pada tanggal 24 Desember  2011 itu bahkan sampai tanggal 3 Januari kemarin masih ada yang menanyakan. Karena sengaja saya buat menarik.

Dari hampir 100 orang yang mengirim  sms menanyakan, ada 2 orang yang bergabung. Yang lainnya sekedar menanyakan lowongan kerja apa? Gaji berapa? Kantor di mana? Kerjanya bagimana?

Ada 2 orang pencari kerja yang menarik perhatian saya.
Pertama, dia seorang perempuan, mengaku sebagi lulusan terbaik sebuah fakultas di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Dia bilang, bahwa hanya kuliah 3,8 tahun. Tapi dengan prestasi akademiknya itu ternyata tidak menjamin dia mendapat kerja, bahkan masih menganggur. Kita tentu berpikir, bagaimana bisa seorang lulusan terbaik belum mendapat kerja? Menurut saya mungkin saja. Karena dia hanya mengandalkan ijazahnya. Ijazah bukan jaminan untuk mendapat kerjaan bagus. Bahkan ketika kita terlalu membanggakan ijazah, bisa jadi perusahaan akan berpikir 2 kali untuk menerima kita. Karena perusahaan tidak ingin karyawan barunya terlalu banyak menuntut. So, pertimbangkan lagi jika kita masih mengandalkan ijazah saat mencari kerja. Perusahaan itu mencari karyawan yang berpengalaman, bukan mecari ijazah terbaik.

Di sini saya tidak sedang mengatakan bahwa pendidikan itu tidak penting. PENTING. Pendidikan itu sangat penting. Bahkan ada istilah "Yang kuliah aja masih ada yang nganggur, apalagi kalo nggak kuliah". Pendidikan -sampai perguruan tinggi- itu penting untuk membangun relasi, membangun pola pikir, mendewasakan sikap. Tapi jangan terpaku pada ijzah saja untuk mencapai sukses. Banyak yang sukses bermodal ijazah, tapi tidak kalah banyak juga yang sukses tanpa menngandalkan ijazah.

Saya contohkan, ada tetangga saya mas Agus,  yang sukses jadi pengusaha jual beli dan servis komputer. Padahal dia adalah Sarjana Kehutanan, nama lengkap dan gelarnya AGUS TEJO UTOMO, S.Hut. Juga bosnya KedaiDigital, Saptuari Sugiharto. Dia adalah Sarjana Geografi Perencanaan Wilayah dari UGM. Tapi dia malah jualan mug, kaos dan merchandise. Apa hubungannya antara kerjaan dan ijazah mereka? Melihat wawancara Saptuari Sugiharto di acara Kick Andy Metro TV, juragan KedaiDigital ini mengatakan, "Ketika saya kuliah di UGM, mau nggak mau saya belajar memanage pola pikir saya, membangun network dengan kawan-kawan..." (videonya di youtube ada kok...).
Jadi pendidikan tetap penting. Tapi ijazah bukan jaminan kesuksesan!!

Yang kedua, seorang yang baru saja resign dari perusahaan lamanya. Dia “merengek” untuk diterima kerja. Padahal jika dia mau datang ke kantor, pasti akan diterima. Katanya ingin membahagiakan orang tua. Dia minta gaji Rp. 3 juta per bulan bukan termasuk banus dan  lain-lain. Saya katakan padanya, “Ingin membahagiakan orang tua dengan Rp. 3 juta per bulan ? Mana bisa!” Menimbang pengorbanan orang tua yang begitu berat, masa dengan Rp. 3 juta per bulan bisa membahagiakan mereka.

Sahabat, menyimak dua kisah barusan, kita harunya bisa mengambil pelajaran. Bukan saatnya lagi kita kesana-kemari membawa map berisi lamaran kerja, Keluar masuk kantor menanyakan lowongan kerja. Beli Koran hanya untuk mencari iklan lowongan kerja.

Saatnya kita ciptakan lapangan kerja. Kita tampung teman dan saudara serta para pencari kerja yang jumlahnya ribuan itu.

6 Responses to "Buat Apa Ijazah?"

  1. @Juwita Hsu, silakan dishare lagi...:D

    BalasHapus
  2. Setuju Paak....."bismillah" Kata Awal untuk melangkah menjadi lebih baik..(^_^)

    BalasHapus
  3. @Rofi, siipp, lulus-nikah-kaya

    BalasHapus
  4. betul sekali, ijazah bukan jaminan, dan saya pun saat ini sudah selesai kuliah D3 sampai semester 6, dan berniat tidak menamatkannya, yang penting selama 6 semester saya sudah banyak ilmu baik ilmu akademis maupun non akademis.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam