Latest News
Paket Program Hamil

Beda Orang Kuat Iman dan Lemah Iman

Dalam menjalani hidup sehari-hari, akan sangat berbeda sikap seseorang ketika menghadapi suatu kejadian. ini semua sangat tergantung denan tingkat keimaanan seseorang.

Sebuah Mobil Terpanggang Api Disiang Bolong
 Sebuah Mobil Terpanggang Api Disiang Bolong
Saya mempunyai dua kisah yang sangat kontras dan semuanya dialami oleh teman saya. Tidak perlu saya sebut identitasnya karena yang akan kita ambil adalah hikmah dari dua kejadian itu saja. Dengan harapan setelah membaca kedua kisah ini kita akan semakin bijak mengahdapi ujian dalam kehidupan.

Pada sekitar sebulan yang lalu, seorang tetangga saya terkena musibah. Musibah yang bagi sebagian orang akan sangat berat dirasakan. Peristiwa itu adalah terbakarnya toko mebel milik tetangga saya tersebut. berita lengkapnya bisa Sahabat baca di web BPBD Sleman Sebuah Mobil Terpanggang Api Disiang Bolong. Kerugian yang diderita jelas sangat banyak, mencapai puluhan juta rupiah. Bayangkan, sebuah toko mebel yang penuh dengan barang-barang plus sebuah mobil dan tentu saja surat-surat berharga.

Mobil yang ikut hangus terbakar.
Tapi apakah beliau lalu larut dalam kesedihan? Tidak!! Sama sekali tidak. Ketika peristiwa itu terjadi, sangat manusiawi kalau kemudian bersedih. Tetapi, kesedihan itu tidak perlu berlarut-larut. Dan benar. Sehari setelah kejadian itu, tetangga saya itu sudah mulai mengurus surat-surat penting. Hari berikutnya malakukan bersih-bersih denngan dibantu para tetangga. Dan seminggu kemudian, dia sudang membangun kembali toko mebelnya yang ludes itu. Pada saat tulisan ini saya buat (31 Mei 2012), toko mebel itu sudah jadi, hanya tinggal memasang daun pintu.

Ketika saya sempet bersilaturahim ke rumahnya beberapa hari setelah kejadian, saya sempet ngobrol. Dia mengatakan bahwa dia punya prisnsip, "Jadikan dunia ini hanya di tangan, bukan di hati" Dan prinsip ini juga yang akhirnya membuatnya tetap tegar ketika mengalami hal tersebut. Dia sangat yakin akan ada hikmah di balik kejadian itu. Bahwa Allah sedang menyiapkan skenario yang kita tidak tahu.

Untuk Sahabat ketahui, tetangga saya ini dulu pernah aktif mengelaola pengajian anak-anak di masjid bersama saya. Namun karena dia harus pindah menunggu toko mebelnya, sejak itu kita tidak lagi mengelola pengajian anak-anak di masjid.

Dan saya ketika hari kejadian mengunjunginya, saya tidak mengatakan padanya, "Sabar ya, Pak. Ini adalah ujian...bla..bla..bla.." karena saya sangat yakin bahwa dia sudah sangat memahami bahwa ini adalah ujian dari Allah. Saya datang sekedar ingin menguatkannya, bahwa masih banyak orang-orang disekitarnya yang peduli padanya.

pria stress
Pria stress
Kisah yang kedua juga dialami oleh teman saya. Kenal di sebuah seminar bisnis. Pada suatu hari, saya buka-buka update status temen-temen saya di BB. Ada satu status yang mengusik penasaran saya. "Sedang galau..."

Karena sudah mengenal, saya kirim dia pesan. dan akhirnya dia menceritakan ihwal statusnya. Bahwa dia sedang mengalami suatu kejadian yang cukup membuat orang yang lemah iman menjadi stress. Dia baru saja kena tipu senilai Rp. 50 juta rupiah. Waw, jumlah yang fantastic bagi saya. Uang segitu untuk ukuran sekarang saya mesti kerja bertahun-tahun.

JAdi ceritanya, dia ditawari untuk berinvestasi. Karena dijajikan keuntugan yag besar, akhirya dia tertarik untuk berinvestasi. Dia juga mengajak beberapa temanya untuk berinvestasi. Nah, waktu terus berjalan, proyek dari investasi itu belum juga di mulai. Mulailah dia jadi GALAU.

Dari kedua peristiwa di atas, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa ketika tingkat keimanan kita ini, lemah maka cobaan apapun yang menimpa tidak akan menggoyahkan iman.

2 Responses to "Beda Orang Kuat Iman dan Lemah Iman"

  1. saya pun merasakan kalu saya lemah iman saya
    saya ini dulu pernah belajar tentang agama islam di pondok pesanteren ,lebih tepatnya itu ada di tangerang .
    dulu saya sempat belajar menghafal al-quuran , tapi sebenranya saya mau belajar agama itu dulu bukan dari keinginna saya , itu semua dari keluwarga saya ...
    dan yg saya rasakan saat ini adalah menyesal , karna saya tidak mau serius untuk belajar agama !
    dan sekarang saya dalam kebimbangan , sekolah saya tidak lulus , belajar agama saya tidak selesai .
    dan dari keluwarga sayapun tidak ada yg memberi dukungan yg maksimal untuk saya agar anaknya ini menjadi orang yg benar...
    saya sadar kalau saya dulu itu tidak serius untuk belajar agama , dan saya sanggat berharap kepada keluwarga saya , agar mereka memberikan yg terbaik buat masa depan saya ...!
    saya merasakan iman saya sangatlah lemah !

    BalasHapus
  2. >>> Budi ELpo
    ketika kita mengetahui bahwa kondisi kita seperti yang mas Budi ceritakan, sebenarnya kita tahu apa yang harus kita lakukan...

    kalau tahu kondisi iman kita lemah, maka langkah yang harus di ambil adalah berusaha meningkatkan keimanan dengan banyak mnengaji, atau hadir di majelis-majelis dimana di situ kita bisa mendaptakan pencerahan..

    atau dengan mencermati keadaan alam sekitar...
    bagaimana kondisi orang-orang yang ada disekeliling...
    dll

    so, datangi orang-orang yang berkompeten, jangan sampai salah datang ke orang yang tidka semestinya, karena di saat jiwa kita labil, akan sangat mudah mendapat pengaruh yang tidak baik...

    semoga bermanfaat...

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam