Latest News
Paket Program Hamil

Kemana Aktivis HAM?

Mungkin ini postingan yang membahas kasus penyerangan lapas Cebongan sudah dianggap basi, tetapi itu tidak masalah buat saya. Sebenarnya sudah lama saya pengen membuat postingan tentang aktivis HAM.

Sebelum membaca lebih jauh, silakan Sahabat membaca sebuah pesan yang saya terima di BBM berikut ini:
Kami warga masyarakat jogjakarta secara khusus menyatakan :
1. Meng-apresiasi atas tindakan atas kejujuran 11 parjurit kopassus u mengakui sbg tersangka dlm kasus lapas cebongan.
2. Sbgn besar masyarakat jogjakarta tdk peduli dgn kematian ke 4  preman yg dieksekusi bhkan sgt senang jika ke 4 preman itu lebih baik mati daripada buat resah warga jogja.
3. Kita sbg wrg jogja juga lebih paham! lebih tahu! Tentang  ke 4 preman dan anggota2 lainnya, yg mereka preman residivis yg sll buat  anarkis,mabuk2an,pemalak, dan pembunuh berdarah dingin, pemerkosa serta  terlibat kasus narkoba u tempat2 hiburan malam.
4. Mengecam keras upaya dan usaha yg berlebihan super reaktip dari pihak KOMNAS HAM , Kontras maupun sebagian  anggota DPR yg seakan2 lebih membela kepentingan ke 4 preman itu dgn mati-matian. Dgn dalih ini kasus  pelanggaran HAM berat. Padahal Yg seharusnya mereka urusi adalah urusan lain yg lebih penting u kepentingan masyarakat, daripada ngurusi kepentingan preman2 tengik itu.
5. Padahal Pelanggaran HAM kpd masyarakat jogja secara khusus Yg dilakukan oleh ke 4 preman dan anggota2nya lebih besar dibandingkan tindakan  yg dilakukan 11 prajurit kopassus. Tapi kita liat mereka org2 Komnas HAM dan antek2nya diam seribu bahasa terhadap pelanggaran yg diperbuat preman2 itu kpd masyarakat Jogjakarta.
6. Justru dgn kematian ke 4 preman itu jujur membuat masyarakat jogja dan sbgn besar pelajar mahasiswa merasa aman & tdk terimidasi.
7. Kpd para anggota DPR pusat ataupun reporter media manapun apapun silahkan u mensurvei u dimintai pendapat kpd ratusan ribu bhkn sejuta Warga jogjakarta sekitarny dari tingkat RT RW dukuh lurah camat bupati dan dari berbagai kalangan pegawai negeri maupun swasta, pedagang, dan para pelajar serta  mahasiswa sbgn besar yg mereka inginkan adalah JOGJA AMAN TANPA PREMANISME. SILAHKAN KELUAR JOGJA JIKA HANYA MENJADI PREMAN DIJOGJA.
Pesan yang saya terima beberapa hari yang lalu itu mungkin merupakan ungkapan hati, kami warga Jogja yang menginginkan ketenagan dalam menjalani hari-hari. Tanpa preman. Dan memang, pasca kejadian penyerangan Lapas Cebongan Sleman mencuat beberapa waktu lalu, ada sedikit perubahan yang terjadi. Berkurangnya kegiatan yang sering dilakukan para preman. Aktivitas di daerah "x" di wilayah Sleman yang dulu terkenal sangat kental dengan mabuk-mabukan, musik yang keras dan sebagainya agak berkurang.

Kemana Aktivis HAM?

Sesuai dengan judul psotingan ini, saya sedikit menyoroti orang-orang yang mengaku sebagi aktivis HAM dengan lembaga yang paling sering muncul di media yaitu Kontras dan Komnas HAM.

Sudah sangat sering kita baca berita tentang pelanggaran HAM. Tetapi apakah kita perhatikan, jika berita itu muncul, bisa dipastikan yang menjadi pelanggar HAM adalah tentara atau Polisi. Jarang sekali pelaku pelanggaran HAM -dalam berita pelanggaran HAM itu- dilakukan oleh sipil. Para aktivis HAM pasti akan selalu megatakan pelanggaran HAM oleh tentara atau polisi.

Kita tentu masih ingat, dulu jaman penumpasan Gerakan Aceh Merdeka atau pemberantasa GPK di Timor Timur. Hampis semua berita tentang pelanggaran HAM, pelakunya adalah TNI. Bahkan sampai pada persidangan dan divonis.

Lalu belum lama, di Medan, ada seorang anggota polisi yang tewas dihajar massa karena menahan seorang penjudi. Atau anggota TNI yang menjadi korban penembakan "orang tak dikenal" di Papua. Bandingkan aksi yang dilakukan aktivis HAM.. dengan kejadian penyerangan Lapas Cebongan!


Sebuah reaksi yang berbeda 1800. Ketika ada preman/penjudi atau yang lain menjadi korban, orang-orang yang mengaku aktivis HAM ini akan langsung bereaksi. Koar-koar di media massa, “Pelanggaran HAM”. Tetapi mana reaksi mereka ketika ada tentara atau polisi yang jadi korban amuk masa atau korban penembakan. Mereka diam seribu bahasa.

Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Apakah pelanggaran HAM itu hanya berlaku bagi tentara atau polisi saja? Sedangkan bagi warga sipil yang melakukan hal yang sama tidak dikatakan sebagai pelanggaran HAM?

Apakah mereka –para aktivis HAM- pikir aksi-aksi premanisme itu tidak melanggar HAM? Merampas, mencuri, memalak, membunuh, memperkosa, berbuat onar. Inilah pelanggaran HAM yang sebenarnya. Mengganggu hak masyarakat yang mengharapkan kehidupan yang tenang. Bukan Cuma 1 atau 4 orang saja. Tetapi puluhan, ratusan bahkan ribuan hak masyarakat yang ingin hidup tenang terlanggar dengan adanya aksi-aksi premanisme.

Ini preman mati 4 orang saja reaksi mereka udah kayak orang seratus yang mati. Koar-koar pelanggaran HAM. Padahal, dengan matinya 4 orang preman itu, justru berakibat pada menurunnya aksi premanisme dan sedikit mengembalikan ketenangan di tengah masyarakat.

Rohingya, Syiria, Palestina.

Sahabat tentu juga tahu, berita tentang pembantaian di Rohingya, Syiria, Palestina. Yang jadi korban  di beberapa wilayah itu warga sipil. Tetapi “Para Aktivis HAM” ini juga pada diam.

Aktivis HAM internasional juga gak kedengaran beritanya, terkait pembantaian di Rohingya, Syiria, penyerangan oleh tentara Israel terhadap Palestina.


Akhir kata…

Kepada Saudaraku para Aktivis HAM, bersikap adillah dalam menilai. Apakah suatu tindakan itu melanggar HAM atau tidak. Jangan subyektif. Militer bisa melakukan pelanggaran HAM. Sipil juga bisa. Bahkan kalian pun belum tentu terhindar dari perbuatan yang melanggar HAM.

0 Response to "Kemana Aktivis HAM?"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam