Latest News
Paket Program Hamil

Mulutmu Harimaumu

Mulutmu harimaumu artinya segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri. Peribahasa singkat, namun sarat makna. Pesan yang terkandung didalamnya adalah bahwa kita harus menjaga semua ucapan yang keluar dari mulut kita.


Belajar dari Flo dan Dinda

Beberapa hari ini, sempat heboh di media sosial pemberitaan tentang seorang pengguna Path bernama Florence Sihombing yang mengeluarkan status di akun Pathnya yang bernada penghinaan terhadap Jogja. Kontan saja, tulisan status singkat yang di publish di jejaring sosial Path itu menuai reaksi masyarakat Jogja.
Dan kasus ini harus sampai ke kepolisian, meskipun yang bersangkutan sudah melakukan klarifikasi serta permintaan maaf kepada warga Jogja.

Kejadian serupa juga pernah terjadi. Adalah Dinda, seorang pengguna jejering sosial Path juga yang menulis di akun jejaring sosialnya sebuah pernyataan yang bernada tidak mengenakkan terhadap seorang ibu hamil yang sama-sama seperti Dinda, penumpang kereta. Meskipun akhirnya Dinda juga meminta maaf atas kejadian tersebut.

Kedua orang ini sama-sama mengalami bullying di media sosial. Dan kemungkinan besar, saat mendapat perlakuan seperti itu di sosial media, mereka mengalami tekanan batin yang luar biasa. Inilah sanksi sosial.

Hikmahnya adalah...
Kita sebagai manusia, makhluk sosial, berinteraksi dengan sesama manusia yang ada disekitar kita. Ada teman yang kita kenal dengan baik. Kita tahu sifat dan karakternya. Dan tentu kita juga berinteraksi dengan orang lain yang kita tidak tahu sama sekali sifat dan karakternya. Hal ini menuntut kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Sebuah perkataan A, bisa berarti berbeda jika dicapkan dengan intonasi yang berbeda. Atau jika diterima oleh orang yang berbeda. Kepada teman, atau sahabat, kata-kata ejekan akan berefek biasa, bahkan ketika bercanda kita sering saling ejek dengan mereka, para sahabat kita. Tetapi ketika kata yang sama kita ucapkan kepada orang lain yang tidak kita kenal sama sekali, maka itu bisa menimbulkan perang mulut dan yang lebih parah bisa menimbulkan keresahan di masyarakat yang bisa memicu pertikaian antar kelompok.

Seorang pejabat yang ditangannya kebijakan menyangkut hajat hidup orang banyak ditentukan, maka menjaga lisan ini juga sangat penting. Para penetu kebijakan dan pengambil keputusan.

Jadi, peribahasa Mulutmu Harimaumu masih tetap harus kita pahami dan benar-benar kita bisa menjaga lisan kita. Dalam ajaran agama Islam, ada adab-adab dalam menjaga lisan ini.

Menjaga lisan termasuk amalan yang diperintahkan dan agung dalam Islam, coba perhatikan dalil dari Al Quran dan Sunnah serta perkataan para ulama salaf berikut:

QS. An Nur: 24. Artinya: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Dua ayat di atas menjadi dalil untuk menjaga lisan, pada ayat yang pertama pemberitahuan dan sekaligus peringatan bahwa setiap perkataan akan dicatat oelh para malaikat di dlam buku catatan amal, yang akan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat.

Sedangkan pada ayat yang kedua, juga berupa pemberitahuan serta peringatan sekaligus, bahwa  lisan akan menjadi saksi atas semua perbuatan manusia pada hari kiamat.

Jadi, dua ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan agar seorang muslim menjaga lisannya.

Kemudian dalam hadits Arba’in Nomor 29
“… Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Mau, wahai Rasulullah saw.’ Maka Rasulullah saw memegang lidahnya, beliau bersabda, ‘Tahan ini!’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, adakah kita terhitung berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya di dalam neraka dikarenakan lidahnya’, Atau ‘Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?’” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

Pada bagian akhir hadits ke-29 dari kitab Arba’in An-Nawawiyyah di atas, Rasulullah saw menjelaskan bahwa milaku dzalika kuliihi, maksudnya, kunci dari semua urusan yang terkait dengan masuk surga adalah lisan atau mulut. Artinya, kalau seseorang bisa menjaga lisannya, dalam arti tidak mengucapkan kecuali yang baik, dan jika tidak menemukan kebaikan maka ia diam, serta mulutnya tidak mengonsumsi kecuali yang dihalalkan Allah swt, niscaya ia akan memasuki surga Allah swt.

Sebaliknya, jika seseorang tidak menjaga lisannya sehingga ia menggunakannya secara bebas dan untuk berbicara apa saja, juga untuk mengonsumsi apa saja, niscaya kebebasan lisan itu akan menjerumuskannya ke dalam neraka, na’udzu billah min dzalik.

- Berkata baik atau diam
Dalam hadits lain Rasulullah saw menjelaskan, di antara cara menjaga lisan adalah dengan cara berkata baik, atau diam. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik, atau diam,” (Muttafaqun ‘alaih).

- Siapa menjamin mampu menjaga lisan dan kemaluannya, Rasulullah saw menjamin surga baginya
Dalam rangka mendorong umatnya agar mampu menjaga lisan dengan baik sehingga karenanya ia akan memasuki surga, Rasulullah saw bersabda, “Dari Sahl bin Sa’d, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: ‘Siapa yang mau menjamin untukku bahwa ia akan menjaga organ antara dua rahang dan dua kakinya, maka aku jamin surga baginya’,” (HR Bukhari [6474]).

-Akibat satu kata, bisa surga atau neraka
Kita harus senantiasa menjaga lisan. Sebab, satu kata yang meluncur darinya, bisa membawa ke surga atau neraka. Tercatat dalam hadits, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah swt naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [6477, 6478] dan Muslim [2988]).

- Hati-hati, semua kosakata diawasi dan dicatat malaikat
Lisan harus dikontrol dengan baik. Sebab, semua yang keluar darinya, selalu ada pengawas yang mencatat. Allah swt berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS Qaaf [50]: 18).

- Agar tak sering tergelincir, terutama kepada kebohongan, jangan membicarakan segala yang kita dengar
Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar’,” (HR Muslim [5]).

- Jangan suka mengobrol dan mengobral omongan
Sabda Rasulullah saw, “Dari Jabir bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian, dan sesungguhnya yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah mereka yang banyak berbicara, yang memaksa-maksakan bicara supaya didengar dan mereka yang sombong’,” (hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib melalui jalur ini). LihatSilsilah Hadits Shahih [791].

-Jangan membuat forum-forum untuk membicarakan keburukan orang/kelompok/pihak lain
Salah satu pintu kebinasaan yang diakibatkan oleh lisan adalah pembuatan forum-forumNajwa. Rasulullah saw mendefinisikan najwa sebagaiberikut: “Dari Abdullah bin Umar ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Jika manusia berkumpul tiga orang, janganlah yang berdua berbicara tanpa melibatkan yang ke tiga)’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [6288] dan Muslim [2183].

Jadi, najwa adalah kumpulan yang terdiri tiga orang, di mana yang dua berbicara tanpa melibatkan orang ketiga. Atau, kumpulan empat orang di mana dua orang di antaranya berbicara tanpa melibatkan dua orang lainnya, atau yang tiga berbicara tanpa melibatkan yang keempat, dan begitu seterusnya. Termasuk dalam hal ini adalah pembicaraan sekelompok anggota suatu organisasi atau masyarakat tanpa melibatkan para pengambil keputusan dari organisasi atau masyarakat tersebut.

Najwa seperti ini tidak memiliki kebaikan sama sekali kecuali jika dalam rangka tiga hal, sebagaimana dijelaskan Allah swt dalam QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

Selain yang terungkap di atas, masih banyak lagi petunjuk Al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan kita menjaga lisan. Karenanya tak heran, petunjuk Rasulullah dalam penutup hadits ke-29 ini menerangkan lisan sebagai kunci bagi manusia yang ingin memasuki surga-Nya.

(tambahan sumber tulisan dari www,dakwahsunnah.com)
gambar dari google

1 Response to "Mulutmu Harimaumu"

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan bijak. Komentar tanpa nama dan tidak bisa dilacak balik atau ada link aktif saya anggap spam